
masjidkapalmunzalan.id – Memasuki 10 hari pertama Dzulhijjah, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh, termasuk puasa sunnah Tarwiyah (8 Dzulhijjah) dan Arafah (9 Dzulhijjah). Dua puasa ini dikerjakan menjelang Idul Adha dan bertepatan dengan momentum berkumpulnya jemaah haji di Padang Arafah.
Puasa Tarwiyah berasal dari kata tarawwa (membawa bekal air). Sejarahnya dikaitkan dengan perenungan Nabi Ibrahim atas mimpinya menyembelih putranya, yang terjadi pada 8 Dzulhijjah. Sementara puasa Arafah dilaksanakan pada 9 Dzulhijjah, hari wukuf di Arafah, dan sangat dianjurkan bagi muslim yang tidak sedang berhaji.
Secara hukum, puasa Tarwiyah dan Arafah adalah sunnah bagi yang tidak berhaji. Bagi jemaah haji, puasa Arafah bersifat mubah jika tidak memberatkan, bahkan bisa makruh bila melemahkan fisik saat wukuf.
Niat Puasa Tarwiyah
نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillâhi ta‘âlâ
“Aku niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta‘ala.”
Niat Puasa Arafah
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ عَرَفَةَ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnati ‘Arafah lillâhi ta‘âlâ
“Aku berniat puasa sunnah Arafah esok hari karena Allah Ta‘ala.”
Tata cara pelaksanaannya sama dengan puasa sunnah lainnya: berniat sebelum fajar, sahur, menahan diri dari hal yang membatalkan, menjaga akhlak selama berpuasa, dan menyegerakan berbuka saat Maghrib.
Keutamaan puasa Arafah sangat masyhur, di antaranya menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang, menjadi sebab pembebasan dari api neraka, dikabulkannya doa, serta pahala besar bagi pelakunya. Karena itu, dua hari ini menjadi kesempatan emas meraih limpahan pahala di awal Dzulhijjah.
Umat Islam diimbau mempersiapkan diri menyambut Tarwiyah dan Arafah dengan niat ikhlas, menjaga kualitas ibadah, dan memperbanyak doa. (*)