
masjidkapalmunzalan.id – Pengasuh Masjid Munzalan Mubarakan, KH. Luqmanulhakim atau yang akrab disapa Ayahman, menghadiri kegiatan silaturahim bersama para orang tua asuh di Masjid Munzalan Al Husni Sintang pada Sabtu, 23 Mei 2026.
Kegiatan berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Dalam tausiyahnya, Ayahman menyampaikan pesan tentang pentingnya semangat berbagi, meningkatkan kualitas ibadah, serta memperkuat keikhlasan dalam beramal sholeh.
Pada kesempatan tersebut, Ayahman mengawali materi dengan membacakan QS. At-Thalaq ayat 7 yang menjelaskan tentang anjuran memberi nafkah sesuai kemampuan masing-masing.
“Hendaklah orang yang lapang (rezekinya) memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang disempitkan rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari apa yang dianugerahkan Allah kepadanya…”
(QS. At-Thalaq: 7)
Melalui ayat tersebut, Ayahman mengingatkan bahwa sedekah dan berbagi tidak harus menunggu dalam keadaan berlebih.
Beliau kemudian memberikan analogi sederhana tentang seorang penjual kecap yang hanya memiliki uang Rp50 ribu. Ketika temannya tidak memiliki uang untuk membeli beras seharga Rp25 ribu, seluruh uang yang dimilikinya justru dipinjamkan kepada temannya tersebut.
“Untuk bersedekah tidak harus menunggu lapang. Di waktu sempit pun kita tetap bisa berbagi,” ungkap Ayahman.
Dalam tausiyahnya, Ayahman juga menyampaikan konsep “3T” sebagai pengingat agar seorang Muslim terus bertumbuh dalam amal dan ibadah, yaitu:
1. Temukan Amal Sholeh Baru
Menurut beliau, jika seseorang terus melakukan hal yang sama, maka hasil yang diperoleh pun akan tetap sama. Namun, ketika seseorang mulai melakukan kebaikan yang berbeda, maka akan lahir hasil dan keberkahan yang berbeda pula.
2. Teruskan Amal Sholeh yang Sudah Biasa Dilakukan
Ayahman mengingatkan pentingnya istiqamah dalam menjaga amal-amal baik yang selama ini telah rutin dikerjakan.
3. Tingkatkan Kualitas Amal Sholeh dan Ibadah
Pada poin ini, Ayahman menjelaskan beberapa tingkatan dalam beribadah:
- Beribadah sebagai bentuk syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan.
- Beribadah dengan kesadaran bahwa manusia sangat membutuhkan Allah, bukan sebaliknya.
- Mukallaf, yaitu orang yang masih merasa ibadah sebagai beban.
- Level anak-anak, yakni beribadah karena masih mengharapkan hadiah atau imbalan tertentu.
Selain itu, Ayahman turut mengingatkan jamaah agar tidak terlalu sibuk membuktikan sesuatu kepada manusia.
“Kurangi membuktikan sesuatu pada manusia. Ketika kecil dihina, saat berkembang dicurigai, bahkan ketika benar pun tetap bisa dighibahi,” pesannya.
Suasana silaturahmi berlangsung penuh kehangatan dan refleksi. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi penguat semangat bagi para orang tua asuh untuk terus memperbaiki kualitas ibadah, memperbanyak amal kebaikan, serta menjaga keikhlasan dalam menjalani kehidupan.