
Oleh : H. A. Muhammad Nur Syahid, SE., ME.
masjidkapalmunzalan.id – Coba sebutkan satu nama laki-laki besar dalam Islam yang ilmunya lahir di pasar? Banyak. Di medan perang? Bejibun. Di masjid? Wah, itu tempatnya para Imam Mazhab bersandaram di tiang . Tapi, coba sebutkan berapa nama perempuan besar yang lahir dan berkarya dari masjid? Di sinilah letak mindblowing-nya. Sejarah yang sering kita dengar adalah sejarah laki-laki yang membangun mihrab. Sementara itu, kita luput melihat bahwa separuh isi peradaban ini sebenarnya mengalir deras dari sisi lain tirai masjid, dari halaman tempat wudu, bahkan dari bilik kecil di pojok serambi atau yang diabadikan dalam Al-Qurah adalah Mihrab Maryam yang mencengangkan dunia menggungcang langit, dari mihrab selalu mengalir rezeki yang mengejutkan.
Ternyata ada barisan perempuan tangguh yang tidak pernah merasa bahwa masjid itu “terlalu sempit” untuk mimpi mereka. Masjid bagi mereka bukan sekadar karpet hijau untuk sujud lalu pulang. Masjid adalah kawah candradimuka—tempat meledakkan ide-ide raksasa yang mengguncang dunia berabad-abad. Mari kita bicara dari hati ke hati tentang tujuh nama ini, tujuh perempuan yang membuat saya, sebagai laki-laki, harus menunduk hormat setiap kali melewati gerbang masjid yang karya raya.
1. Sang Rektor dari Bilik Jendela: Sayyidah Aisyah (Madinah, Jazirah Arab)
Kita mulai dari yang paling bikin ulama klasik geleng-geleng kepala: Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar ra. Dengar kata “Aisyah”, bayangan kita biasanya soal hadis, fiqih, atau peristiwa tertentu. Tapi coba perhatikan hubungan beliau dengan masjid. Kamar beliau itu nempel langsung dengan Masjid Nabawi, jendelanya tembus ke makam Rasulullah. Dari jendela itulah ribuan mata rantai ilmu memancar. Hampir seperempat agama ini riwayatnya melalui kecerdasannya. Laki-laki tangguh sekelas Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar saja duduk manis dikoreksi periwayatannya. Jadi, masjid di era awal Islam itu bukan cuma tempat sujud, tapi ruang kuliah terbuka dengan “rektor” perempuan sekaligu ibu orang-orang beriman, ummul mu’minin. Dari kamar yang nyaris menyatu dengan masjid inilah lahir 25-30% syariat Islam. Maka tidak relevan jika hari ini masih ada yang belum selesai denat perempuan boleh ke masjid atau tidak. Lha, Sayyidah Aisyah malah berkarya dengan karya yang tidak main-main dari bilik Masjid sejak Abad 6 Masehi.
2. Sang Founder Perguruan Tinggi Pertama Di Dunia: Fatimah al-Fihri (Fez, Maroko, Afrika Utara)
Lompat ke abad pertengahan, kita memiliki sosok yang mungkin lebih pantas disebut “CEO Properti Wakaf” bukan donatur biasa : Fatimah al-Fihri. Namanya mungkin sudah sering Anda dengar sebagai pendiri Masjid, Madrasah dan Universitas al-Qarawiyyin. Tapi kita sering lupa satu detail kecil yang sangat penting: kampus tertua di dunia yang masih beroperasi itu awalnya sebuah masjid. Fatimah mewakafkan seluruh warisannya untuk membangun Masjid al-Qarawiyyin. Cintanya pada masjid bukan cinta posesif yang cuma pengen mushalla bersih dan wangi. Cintanya adalah cinta visioner: “Masjid ini harus jadi pusat ibadah, iya. Tapi juga pusat diskusi astronomi, pusat debat filsafat, pusat gagasan politik, pusat pengkajian fisika kimia, pusat dialegtika sosial budaya dan laboratorium sains serta kedokteran, dan pusat tata kelola ekonomi mikro dan makro.” Hasilnya? Dari masjid yang dia bangun sejak Abad 8 Masehi, lahir Paus Sylvester II (yang ngajarin Eropa angka nol) dan filsuf Maimonides. Perempuan ini membangun masjid di Afrika, lalu seluruh Eropa kena imbas pencerahannya. Bandingkan dengan pengurus masjid kita yang kebuntuan ide, rapat bulanan cuma mikirin ganti warna cat tembok itupun penuh debat.
3. Sang Ahli Logistik dan Pengairan : Zubaidah binti Ja’far (Baghdad ke Mekkah, Jazirah Arab)
Masih di era yang sama, ada Zubaidah binti Ja’far, istri Khalifah Harun ar-Rasyid. Namanya harum karena sumur-sumur dan jalan haji sepanjang Kufah ke Mekkah. Tapi tahukah Anda bahwa proyek infrastruktur raksasa zaman Abbasiyah itu justru berawal dari rasa gemasnya melihat jamaah haji kehausan di Masjidil Haram? Ketika haji, Zubaidah melihat kondisi air zamzam yang keruh dan jamaah yang pontang-panting. Bukannya cuma mengeluh sambil kipas-kipas seperti kebanyakan dari kita, perempuan ini pulang ke Baghdad dan langsung memerintahkan para insinyur terbaik kerajaan untuk membuat kanal dan beberapa sumur yang membentang 1.500an kilometer. Kalau kita baru bagi-bagi air dus itupun setahun sekali minggir dulu. Hehe.. Cintanya pada masjid dan jamaah masjid, mewujud jadi rahmat lintas zaman. Kalau pejabat kita cintanya pada masjid cuma sebatas potong pita peresmian AC baru sambil senyum ke kamera itupun menjelang pilkada kalau kalau karpet digulung kembali, Zubaidah ini levelnya beda: cintanya mengairi padang pasir buat jutaan manusia. Beliau sampai sekarang belum terpecahkan rekornya dalam berbagi air untuk jamaah sejak Abad 7 Masehi. Lha, masjid kita malah berdebat kas masjid gak boleh dipakai makan-makan atau minum-minum jamaah.
4. Sang Ulama Perempuan Pendidik Laki-Laki: Rabi’ah al-Adawiyah (Basrah, Irak)
Sekarang kita masuk ke ranah yang lebih “spiritual” tapi akarnya sangat membumi: Rabi’ah al-Adawiyah. Sering dicap nyentrik yang lari dari dunia. Padahal, kalau ditelisik, Rabi’ah itu produk dan hasil kaderisasi Masjid Basrah. Lingkaran halaqah-nya di masjid itulah yang membuat konsep Mahabbah (Cinta Allah) viral. Dia tinggal di bilik kecil dekat masjid dan masjid itulah panggungnya untuk mendidik para santri salik dan zahid dari kalangan pria yang mentalnya masih labil soal dunia. Hebatnya, dia mengubah masjid dari sekadar tempat debat tekstual yang kaku menjadi ruang penghayatan cinta yang menggetarkan qalbu. Para ulama besar Basrah beritikaf di masjid itu bukan cuma buat shalat, tapi buat “menghanyutkan jiwa”. Rabi’ah adalah bukti bahwa masjid bisa menjadi tempat laki-laki belajar tentang Tuhan dari guru perempuan. Ia dijuluki sebagai “The Mother of the Grand Master” bahkan pemikirannya terus dikaji di timur dan barat sejak abad ke 7 Masehi.
5. Sang Mobilisator Perempuan Afrika: Nana Asma’u (Sokoto, Nigeria, Afrika Barat)
Nah, setelah dari Timur Tengah, mari kita jalan-jalan sebentar ke benua mutiara hitam. Kita punya Nana Asma’u. Putri pendiri Kekhalifahan Sokoto ini bukan cuma pinter ngaji di masjid, tapi juga memanfaatkan masjid sebagai pusat pelatihan dan kaderisasi untuk para guru perempuan yang ia sebut Yan Taru. Mereka ini disebar ke pelosok desa buat memberantas buta huruf dan ngajarin perempuan soal Islam sekaligus keterampilan hidup. Darimana? Dari masjid! Hasilnya? Gerakan literasi massal yang membuat perempuan Hausa di Nigeria jadi melek huruf jauh sebelum zaman kemerdekaan. Kalau sekarang ada yang bilang perempuan cukup di dapur aja, coba tengok Nana Asma’u—dia keluar masuk masjid dan pelosok desa justru buat membangun peradaban, membangun manusia dari masjid. Baginya masjid adalah pusat pemberdayaan perempuan, ia adalah pelopor feminisme modern berbasis Islam sejak Abad 17 Masehi.
6. Sang Ratu yang Membangun Masjid Raksasa: Shah Jahan Begum (Bhopal, India, Asia Selatan)
Geser ke Asia Selatan, ada Shah Jahan Begum dari Bhopal, India. Jangan tertukar dengan Shah Jahan si pembangun Taj Mahal, ya. Ini perempuan penguasa Bhopal abad ke-19 yang membangun Taj-ul-Masajid—salah satu masjid terbesar di India. Bayangkan, di zaman ketika perempuan masih dianggap cuma “teman didapur, kasur dan sumur”, Begum ini menggelontorkan 1,6 juta rupee buat membangun masjid megah. Dan bukan cuma itu: ia juga membangun masjid-masjid lain, sekolah, dan rumah sakit. Cintanya pada masjid bukan sekadar batu bata, tapi fondasi kerukunan lintas agama dan pendidikan perempuan. Ini bukti bahwa perempuan dan masjid bisa menjadi poros toleransi.
7. Sang Panglima dari Serambi Masjid: Ratu Kalinyamat (Jepara, Indonesia)
Sekarang kita pulang ke Indonesia. Ada Ratu Kalinyamat, penguasa Jepara abad ke-16 yang membangun Masjid Mantingan. Tapi jangan cuma lihat masjidnya, lihat juga bagaimana masjid itu jadi pusat dakwah dan perlawanan. Ratu Kalinyamat ini bukan cuma jago ngurus kerajaan dan memimpin pertempuran melawan Portugis, tapi juga menjadikan masjid sebagai episentrum penyebaran Islam lewat seni ukir dan budaya. Perempuan ini paham betul bahwa masjid itu bukan cuma tempat sujud, tapi benteng identitas dan pusat mobilisasi kekuatan umat. Kalau sekarang ada masjid yang cuma rame pas Ramadhan, coba belajar dari Mantingan: masjidnya masih berdiri kokoh sampai sekarang, saking kuatnya fondasi peradaban yang ia bangun sejak Abad 15.
8. Sang Wartawati dari Surau: Rohana Kudus (Koto Gadang, Sumatera Barat, Indonesia)
Dan yang terakhir, dari Sumatera Barat, ada Rohana Kudus—jurnalis perempuan pertama Indonesia dan pahlawan nasional. Lahir di Koto Gadang tahun 1884, ia tumbuh dalam budaya yang nggak ngasih ruang buat perempuan sekolah. Tapi dari surau—masjid kecil khas Minangkabau—ia belajar tafsir Al-Qur’an dan menyimpulkan bahwa Islam justru mewajibkan perempuan berilmu. Dari surau itulah ia kemudian mendirikan sekolah perempuan dan surat kabar Soenting Melajoe. Surau baginya bukan cuma tempat ibadah, tapi ruang pembebasan. Dari situ ia membuktikan bahwa perempuan Minang bisa jadi guru, jurnalis, dan penggerak perubahan. Dia menjadi guru Al-Quran sejak masih kecil. Kalau ada yang masih mikir perempuan di masjid cuma jadi penghias saf belakang, ingatlah Rohana Kudus—dari surau kecil di Koto Gadang, ia mengguncang tradisi dan membuka jalan bagi perlawanan terhadap diskriminasi perempuan.
Jadi Masjid itu Milik Siapa?
Nah, setelah tujuh nama ini kita beberkan—dari Madinah ke Maroko, dari Nigeria ke India, lalu ke Jepara dan Koto Gadang—masih adakah yang berani bilang bahwa perempuan dan masjid itu hubungannya cuma sebatas jilbab seragam dan majelis taklim rutin? Lihatlah peta peradaban yang mereka tinggalkan. Mereka tidak merengek minta “tempat yang layak”, mereka langsung mengambil peran. Mereka membangun menara ilmu, menggali kanal kemanusiaan, mendidik para filsuf dan pemikir, hingga memimpin pergerakan dan perlawanan. Ini baru 7, sebenarnya masih banyak sekali. Jadi, kalau hari ini ada suara sumbang yang masih memperdebatkan perempuan dan masjid, atau melarang perempuan berkarya dari masjid, mari kita nyengir sinis. “Maaf, sejarah sedang tidak sepakat dengan antum.” Perempuan dan masjid adalah dwitunggal yang menjadi rahim lahirnya pejuang dan perabadan besar sebagai rahmat untuk semesta.(*)