
masjidmunzalan.id – Meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi risiko kebakaran, Masjid Munzalan Mubarakan berkolaborasi dengan LAZ Baitulmaal Munzalan Indonesia (BMI) bersama Relawan Peduli Kemanusiaan (RPK) Kalimantan Barat menggelar pelatihan dan simulasi penanggulangan kebakaran di lingkungan Masjid Munzalan Mubarakan, Sungai Raya Dalam, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Sabtu (15/8/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memberikan edukasi mitigasi bencana kepada pengurus masjid, pondok pesantren, serta para mitra lembaga agar memiliki pemahaman dasar mengenai langkah awal menghadapi kebakaran.
Pelatihan dilaksanakan di tengah musim kemarau yang turut meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi terjadinya kebakaran, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan Barat.
Direktur Utama LAZ Baitulmaal Munzalan Indonesia, Adam Pratama, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kolaborasi strategis antara Masjid Kapal Munzalan dan Relawan Peduli Kemanusiaan Kalimantan Barat.
“Alhamdulillah hari ini kita mengadakan pelatihan penanggulangan kebakaran. Ini tujuannya karena saat ini banyak dan musim juga kebakaran hutan,” ujar Adam.
Menurut Adam, kolaborasi antara LAZ BMI dan RPK bukan merupakan kerja sama yang baru. Selama ini, LAZ BMI turut memberikan dukungan kepada para relawan melalui penyaluran infak pangan berupa beras secara rutin setiap bulan untuk menunjang aktivitas mereka di lapangan.
Namun, dukungan tersebut kemudian diperluas melalui edukasi dan peningkatan kapasitas masyarakat.
“Karena kami tidak bisa turun, maka kami berikan pangan kepada mereka, kepada relawan. Ini sebenarnya kami bertujuan untuk memberikan edukasi,” jelasnya.
Belajar Segitiga Api hingga Praktik Penggunaan APAR
Ketua Relawan Peduli Kemanusiaan Kalimantan Barat, Eddy Zulkarnaen, menjelaskan bahwa pelatihan tidak hanya memberikan materi secara teori, tetapi juga menghadirkan simulasi penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).
Peserta diperkenalkan dengan konsep segitiga api, pemahaman dasar mengenai APAR, serta cara menggunakan alat tersebut ketika menghadapi kebakaran dalam skala kecil.
“Kami diminta memberikan simulasi tentang penanggulangan kebakaran di lingkungan Masjid Kapal Munzalan. Kami memberikan materi segitiga api, kemudian bagaimana cara menggunakan APAR dan apa itu APAR,” kata Eddy.
Setelah mendapatkan materi, peserta kemudian diajak melakukan praktik secara langsung untuk menangani api.
Menurut Eddy, praktik menjadi bagian penting dalam pelatihan karena masyarakat tidak cukup hanya memahami teori. Pengalaman simulasi diharapkan membuat peserta lebih siap mengambil langkah yang tepat ketika menghadapi kondisi darurat.
Ia berharap pengetahuan yang diberikan dapat diterapkan di lingkungan masing-masing dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Masjid dan Pesantren Menjadi Fokus Edukasi
LAZ BMI secara khusus mendorong agar edukasi mitigasi kebakaran dapat menjangkau masjid dan pondok pesantren. Kedua lingkungan tersebut dinilai memiliki interaksi yang dekat dengan masyarakat sekaligus membutuhkan kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai kondisi darurat.
Adam menjelaskan, sasaran edukasi mencakup masjid-masjid mitra di wilayah Pontianak dan Kubu Raya, pengelola pondok pesantren, serta para mitra lembaga LAZ BMI.
“Yang pertama para masjid-masjid, karena kami masjid. Masjid-masjid sekitar Kubu Raya dan Pontianak, masjid-masjid mitra kami. Kemudian untuk para pondok, karena sering sekali kejadian pondok-pondok itu kebakaran,” ungkap Adam.
Ia menilai masih diperlukan peningkatan pemahaman mengenai penanganan awal kebakaran di lingkungan tempat ibadah dan pesantren. Keterbatasan pengetahuan mengenai langkah darurat dapat membuat penanganan api terlambat sehingga berpotensi memperbesar dampak kerugian.
“Bahkan mereka sangat kurang untuk mengetahui edukasi penanggulangan kebakaran. Jadi objeknya adalah pondok, objeknya adalah masjid, dan objeknya adalah para mitra kita,” tambahnya.
Dari Masjid, Membangun Masyarakat yang Lebih Siaga
Pelatihan penanggulangan kebakaran ini menjadi salah satu bentuk nyata ikhtiar LAZ BMI dalam memperluas kebermanfaatan lembaga melalui edukasi dan pemberdayaan masyarakat.
Kolaborasi bersama Relawan Peduli Kemanusiaan Kalimantan Barat diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat berkembang menjadi gerakan peningkatan kapasitas dan kesiapsiagaan di lingkungan masjid, pesantren, serta masyarakat secara lebih luas.
Melalui pengetahuan sederhana seperti mengenali segitiga api, memahami fungsi APAR, dan mengetahui cara melakukan penanganan awal, masyarakat diharapkan memiliki kesiapan lebih baik dalam menghadapi potensi kebakaran.
Dari Masjid Munzalan Muabrakan, edukasi tentang kesiapsiagaan menjadi bagian dari ikhtiar untuk menjaga masyarakat, mengurangi risiko, dan menghadirkan kebermanfaatan yang nyata.