
oleh KH.Muhammad Nur Hasan (Pimpinan Masjid Kapal Munzalan Indonesia)
masjidkapalmunzalan.id – Subuh itu terasa berbeda. Menjadi Subuh Menggapai Keberkahan (SMK) terakhir Tok Haji Luqmanulhakim Ayahman Pontianak di tahun Miladiyah 2025, sekaligus penutup satu fase dakwah sebelum memasuki pola baru di awal 2026. Sebuah penanda bahwa dakwah, sebagaimana hidup, menuntut keberanian untuk terus berinovasi, tanpa meninggalkan akarnya.
Materi yang diangkat pun bukan materi biasa. Selaras dengan bacaan One Day One Juz di awal Juz 16, Surah Maryam, Tok Haji Ayahman menyebut satu frasa yang menggugah: “Rayuan Maut Nabi Zakaria.”
Sebuah istilah yang terdengar puitik, namun sarat makna. Rayuan kepada Rabb semesta alam, yang bukan lahir dari keputusasaan, melainkan dari keyakinan paling jujur.
Namun, sebagaimana ditegaskan beliau, rayuan ini bukan tanpa syarat. Ada syarat dan ketentuan berlaku: husnuzhan kepada Allah dan bukti kesalehan yang nyata.
Doa di Titik Mustahil
Kisah Nabi Zakaria AS adalah potret iman di batas logika. Usia yang telah renta, rambut memutih, dan istri yang dikenal mandul. Secara hitung-hitungan manusia, semua pintu telah tertutup rapat.
Namun Nabi Zakaria tidak berhenti di sana. Beliau berdoa dengan bahasa cinta dan keyakinan:
“Rabbi la tazarni fardan wa anta khairul waaritsiin”
“Ya Rabbku, jangan Engkau biarkan aku seorang diri tanpa keturunan. Engkaulah sebaik-baik Pewaris.”
Tidak ada tuntutan. Tidak ada protes. Hanya pengakuan penuh bahwa Allah Maha Mampu, bahkan ketika semua sebab dunia tak lagi tersedia. Dan jawaban Allah datang, langsung dan tegas:
“Yaa Zakaria, innaa nubassyiruka bighulaamin ismuhu Yahya.”
“Wahai Zakaria, Kami beri kabar gembira kepadamu dengan seorang anak bernama Yahya.”
Di titik ini, logika manusia kalah telak. Takdir Allah tampil sebagai pemenang mutlak. Doa menjadi pintu masuk keajaiban.
Hidup Bukan Skor Akhir
Pesan besar dari kisah ini adalah tentang prasangka baik kepada Allah. Apa yang kita jalani hari ini bukanlah hasil akhir. Ia baru skor sementara.
Kita kerap tergesa menyimpulkan kegagalan, padahal Allah belum menutup ceritanya. Kita sering mengecilkan kuasa Allah hanya karena keadaan belum berubah. Padahal sejarah para nabi justru dibangun dari titik-titik mustahil.
Jika Nabi Zakaria diberi anak saat semua pintu tertutup,
Jika Maryam diberi rezeki tanpa sebab dunia,
Jika Nabi Musa diselamatkan di tepi laut saat Fir’aun di belakangnya,
maka persoalan hidup kita sejatinya jauh lebih kecil dibanding kuasa Allah.
Kasih Alasan, Hadirkan Bukti
Keyakinan tidak cukup berhenti di lisan. Ia menuntut alasan dan bukti.
Pertama, karena Allah telah berjanji:
“Ud’uni astajib lakum.”
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan.”
Kedua, karena sejarah membuktikan:
-
Siapa yang yakin, Allah yang membuktikan
-
Siapa yang sabar, Allah yang memenangkan
-
Siapa yang bertawakkal, Allah yang mencukupkan
Ketiga, karena doa bukan sekadar alat mengubah keadaan, tetapi juga sarana menenangkan jiwa, menguatkan hati, dan membuka jalan yang tak pernah terbayangkan.
Perbesar yang Seharusnya Diperbesar
Dalam hidup yang penuh ketidakpastian, ada tiga hal yang justru harus diperbesar:
-
Perbesar doa
-
Perbesar husnuzhan
-
Perbesar tawakkal
Karena Allah belum selesai menulis kisah hidup kita. Dan jika pun Allah yang menutupnya, orang-orang beriman meyakini satu hal: akhirnya selalu indah dan penuh hikmah.
Rayuan Nabi Zakaria bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah undangan bagi setiap hati yang lelah, agar kembali percaya bahwa doa yang jujur, iman yang utuh, dan prasangka baik kepada Allah, tidak pernah sia-sia. (*)