
masjidkapalmunzalan.id – Gema takbir dan rasa syukur menyelimuti kontingen Sumatra dalam ajang bergengsi Indonesia Bahagiakan Santri (IBS) Nasional yang baru saja usai digelar di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Tampil penuh percaya diri, para santri utusan Sumatra berhasil membuktikan kualitasnya dengan membawa pulang sederet trofi kemenangan, uang tunai, serta bingkisan.
Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa semangat syiar Islam dan kompetensi akademis santri Sumatra mampu bersaing di level nasional. Dominasi mereka terlihat jelas di berbagai bidang, mulai dari keindahan suara dalam Murottal hingga ketajaman wawasan dalam Tsaqofah Islamiyah.
Daftar “Santri Bintang Sumatra” Peraih Juara
Berikut adalah rincian prestasi gemilang yang berhasil ditorehkan oleh para santri :
-
Mahkota Al-Qur’an & Seni Islam
- Murottal Akhwat : Mayang Hindia Putri sukses meraih Juara 1, memukau dewan juri dengan lantunan ayat sucinya yang syahdu.
- Hifdzul Akhwat : Fatimah Azzahra tampil luar biasa dengan memborong dua gelar sekaligus : Juara 2 (5 Juz) dan Juara 3 (10 Juz).
- Kaligrafi Hiasan Mushaf Akhwat : Aisya Mutmainnah menyabet Juara 1 berkat ketelitian seni dan kreativitasnya.
-
Seni Suara & Orasi
- Nasyid Ikhwan : Saidul Qolbi meraih Juara 1.
- Story Telling : Emira Adiba (Akhwat) meraih Juara 1, disusul Fadli Irwansyah Putra (Ikhwan) sebagai Juara 3.
- Syarhil Qur’an Ikhwan : Kerja sama tim Saidul Qolbi, Tijan Darori, dan Fadli Irwansya Putra membuahkan Juara 2.
-
Wawasan Islamiyah
- Tsaqofah Islamiyah Akhwat : Kontingen Sumatra meraih Juara 2 di bidang wawasan keislaman.
Kisah Dibalik Layar, Perjuangan, Air Mata, dan Keajaiban
Dibalik gemerlap trofi tersebut, tersimpan cerita unik dan emosional yang dialami para peserta selama perjalanan safar di Bulukumba. Mayang Hindia Putri menceritakan momen kritis saat jadwal lomba Tsaqofah Islamiyah dan Murottal tiba-tiba bertabrakan. Kepanikan sempat melanda karena mereka hampir kehilangan kesempatan mengikuti lomba Murottal.
“Kami panik dan hampir tidak bisa ikut Murottal. Tapi karena keinginan kuat dan alasan ‘sudah jauh-jauh ke Bulukumba’, akhirnya setelah huru-hara itu kami bisa menyelesaikan lomba,” tutur Mayang.
Tanpa disangka, Mayang yang nyaris gagal hadir justru diumumkan sebagai Juara 1. “Kakak-kakak Paskas yang membantu mencari cara agar kami bisa ikut pun kaget dan bahagia mendengarnya. Dari sini saya belajar disiplin waktu dan menyadari bahwa juara ini adalah berkat doa orang tua, guru, serta dukungan orang-orang luar biasa seperti Paskas yang sangat menghargai perjuangan kami,” tambahnya penuh haru.
Kemenangan Tak Terduga di Tengah Ketidaksiapan
Cerita serupa datang dari Aisya Mutmainnah. Akibat jadwal yang berubah-ubah dan informasi yang terlewat, Aisya mengira lomba Kaligrafi baru akan dilaksanakan esok hari. Saat melihat peserta lain sudah bersiap di hari-H, kepanikan luar biasa melanda.
“Saya merasa bersalah karena tidak bersiap maksimal dan merasa sangat tidak tenang saat bersiap-siap,” ungkap Aisya. Namun, berkat dukungan moral dari teman-teman, pendamping, dan para Paskas, Aisya berhasil melalui tekanan tersebut dengan lancar hingga akhirnya berhasil menduduki podium Juara 1,” ujarnya.
Keberhasilan ini merupakan hasil kerja keras 10 santri terbaik dari pondok pesantren ternama di Bangka Belitung:
- Mayang Hindia Putri, Emira Adiba, Aisya Mutmainnah, Meisya Lutfia Warman, Tijan Darori, Fadli Irwansyah Putra, Saidul Qolbi (PP Al Islam Bangka Belitung)
- Fatimah Azzahra, Muhammad Thariq Jamil, Rusdi Anshori (PP Darut Tahfidz Bangka Belitung)
Prestasi ini diharapkan menjadi pemacu semangat bagi seluruh santri di Sumatra untuk terus mengukir prestasi hingga tingkat internasional demi kemuliaan umat dan bangsa. (*)
Editor : Chairul Rijal Fitriandi
Penulis : Andi Purwanto