
masjidkapalmunzalan.id – Bulan Ramadan 1447 Hijriah pada tahun 2026 diperkirakan jatuh pada bulan Februari. Ia menjadi waktu yang paling dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia. Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, melainkan bulan penuh keberkahan dan limpahan rahmat, ketika pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Di bulan inilah umat Islam dianjurkan untuk memaksimalkan setiap waktu dengan amal kebaikan dan ibadah terbaik.
Agar mampu meraih keutamaan Ramadan secara optimal, diperlukan persiapan yang matang. Salah satu teladan terbaik yang dapat kita ikuti adalah kebiasaan para sahabat Nabi Muhammad SAW dalam menyambut datangnya bulan suci ini. Mereka tidak menunggu Ramadan datang begitu saja, melainkan mempersiapkannya jauh hari dengan kesungguhan hati.
Diriwayatkan bahwa para sahabat mempersiapkan diri menyambut Ramadan sejak enam bulan sebelumnya. Waktu yang terbilang panjang untuk persiapan ibadah satu bulan, namun di sanalah letak pelajaran besar bagi kita tentang pentingnya kesiapan lahir dan batin. Dalam praktiknya, persiapan tersebut selalu berpijak pada tiga pilar utama, yaitu kesiapan fisik, kebersihan hati, dan ketajaman pikiran.
Berikut sepuluh cara yang dilakukan para sahabat Rasulullah SAW dalam menyambut bulan Ramadan:
1. Berdoa kepada Allah SWT
Para ulama menyebutkan bahwa para sahabat selama enam bulan sebelum Ramadan senantiasa berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan suci tersebut. Setelah Ramadan berlalu, mereka kembali berdoa selama enam bulan berikutnya agar seluruh amal ibadah mereka diterima oleh Allah SWT. Ini menunjukkan betapa besar harapan dan kesungguhan mereka dalam menyambut Ramadan.
2. Memohon ampunan dan bertobat
Membersihkan hati menjadi perhatian utama para sahabat. Mereka memperbanyak istighfar dan taubat atas segala kesalahan, serta menjaga sikap dan perilaku agar tidak kembali terjerumus dalam dosa. Puasa, bagi mereka, bukan hanya ibadah jasmani, tetapi juga proses penyucian rohani.
3. Menjaga kesehatan tubuh
Para sahabat juga memperhatikan kondisi fisik menjelang Ramadan. Tubuh yang sehat menjadi sarana penting agar ibadah dapat dijalankan dengan optimal. Dengan fisik yang prima, mereka tidak ingin satu pun peluang kebaikan di bulan Ramadan terlewatkan.
4. Mendalami ilmu agama
Persiapan pikiran dilakukan dengan mempelajari ilmu agama, khususnya hukum-hukum yang berkaitan dengan puasa dan ibadah Ramadan. Umar bin Abdul Aziz pernah mengingatkan, “Barangsiapa beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka ia akan lebih banyak merusak daripada mendatangkan kebaikan.” Ilmu menjadi landasan agar ibadah dilakukan sesuai tuntunan syariat.
5. Mengganti puasa yang tertinggal
Para sahabat, khususnya kaum wanita yang tidak berpuasa karena haid di Ramadan sebelumnya, bersegera mengganti puasa sebelum Ramadan berikutnya tiba. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa para sahabat diperintahkan untuk mengqadha puasa, namun tidak diwajibkan mengqadha salat.
6. Meninggalkan perselisihan
Menjelang Ramadan, para sahabat berusaha mengakhiri perselisihan dan menghilangkan prasangka buruk terhadap sesama. Mereka memahami bahwa hati yang dipenuhi dendam dan permusuhan akan menghalangi keberkahan ibadah.
7. Berkumpul dengan orang-orang saleh
Lingkungan yang baik menjadi faktor penting dalam menjaga semangat ibadah. Rasulullah SAW bersabda, “Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya.” Karena itu, para sahabat memilih untuk bergaul dengan orang-orang yang dapat menguatkan iman dan ketaatan.
8. Memperbanyak amalan kebaikan
Salah satu kebiasaan para sahabat adalah memperbanyak amalan sunnah, seperti puasa di bulan Sya’ban. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan, padahal di bulan itulah amal-amal diangkat kepada Allah. Beliau menyukai amalnya diangkat dalam keadaan berpuasa.
9. Berserah diri kepada Allah SWT
Para sahabat memiliki pemahaman mendalam tentang tawakal. Mereka menyerahkan segala urusan kepada Allah, meyakini bahwa semua ketentuan-Nya adalah yang terbaik, termasuk dalam menjalani ibadah Ramadan.
10. Memantau kemunculan hilal
Sebagai penanda masuknya bulan Ramadan, para sahabat memantau kemunculan hilal. Hal ini dilakukan untuk memastikan pergantian bulan dari Sya’ban ke Ramadan sesuai tuntunan syariat.
Demikianlah kebiasaan para sahabat Rasulullah SAW dalam menyambut bulan Ramadan. Semoga kisah dan teladan ini menginspirasi kita untuk mempersiapkan diri dengan lebih sungguh-sungguh, sehingga Ramadan yang kita jalani benar-benar menjadi bulan perubahan, pengampunan, dan peningkatan iman. (*)