Masjid Kapal, Masjid Millenial

Bagikan :

 

masjid kapal 7 nove 2019

Masjid Kapal  Serdam (7 November 2019)

Masjid Kapal Munzalan adalah masjid generasi milenial. Alasan kenapa dikatakan “masjid milenial” berdasarkan data bahwa 90% jamaah dan penggiat dakwah di masjid ini memiliki usia yang sangat muda, antara 17-30 tahun.  Mereka adalah para generasi milenial kota Pontianak yang sedang berupaya melanjutkan gerak juang junjungan kita Rasulullah Muhammad SAW dalam menegakkan risalah dan menolong agama Allah.

Masjid ini menjadi salah satu masjid anak muda paling populer di Kalimantan Barat. Ada latar belakang penyebabnya, salah satunya adalah memang sejak awal, H.M. Nur Hasan membangun masjid ini untuk para kawula muda. Dalam setiap pertemuan dan aktivitas pengajian, H.M. Nur Hasan tidak pernah bosan mengatakan bahwa Masjid Kapal ini adalah Masjid Kawula Muda. Beliau juga tidak pernah bosan mengajak anak-anak muda untuk beraktivitas di masjid ini.

Misi ini ternyata sejalan pula dengan para penggiat dakwah lainnya. Mereka meyakini bahwa pemuda pecinta Masjid adalah komunitas yang dimuliakan oleh Allah SWT. Misi ini pula yang menarik minat Gurunda Ustadz Luqmanulhakim untuk menjadikan Masjid Kapal Munzalan sebagai markas program Infaq Beras. Program itu dulunya dikendalikan oleh sebuah yayasan yang bermarkas di sebuah warung kopi yang terletak di Jalan Sungai Raya Dalam 1. 

Misi yang sama antara dua orang guru kita ini membuat spirit perjuangan menjadi semakin tajam dan solid. Sejak gurunda Ustaz Luqmanulhakim berkiprah di Masjid Kapal Munzalan, semua aktivitas dakwah di Masjid Kapal Munzalan diarahkan sepenuhnya untuk mengajak generasi muda. Alhamdulillah, atas izin Allah, apa yang telah dicita-citakan tersebut telah terwujud.

Kalau hari ini kita amati, maka kita akan mendapati bahwa hampir seluruh sahabat penggiat dakwah yang beraktivitas di Masjid Munzalan adalah anak-anak muda. Baik yang melaksanakan sholat fardhu berjamaah, melaksanakan sholat Jumat, mengikuti pengajian, serta turut serta dalam berbagai lembaga amal sholeh. Umur mereka antara 16-35 tahun. Sebagian belum menikah, namun banyak pula yang telah menikah dan bahkan memiliki anak.

Jadi kalau ada yang mengartikan bahwa Masjid Kapal Munzalan adalah Masjidnya Kaum Millenial, itu tidak salah. Karena memang anak-anak muda itu sejatinya adalah kaum millenial.

Foto: Anak-anak muda di Masjid Kapal Munzalan.

deklarasi berdirinya baitulmaal pmmay2.jpg

Penampakan Masjid Kapal Munzalan bersama anak-anak muda (September, 2014)

Masjid Kapal Munzalan dan Pondok Modern Ashabul Yamin

Masjid Kapal Munzalan berdiri di tengah-tengah lingkungan masyarakat Tionghoa. Bahkan hingga tahun 2017, persis di depan Masjid Kapal Munzalan ada rumah yang ditinggali keluarga Tionghoa.

Pemilik rumah itu juga memelihara seekor anjing, sehinga para jamaah masjid sudah terbiasa mendengarkan gonggongan anjing saat melaksanakan sholat berjamaah atau mengikuti forum pengajian. Suara gonggongan itu terdengar sangat jelas, karena jarak antara masjid dengan pekarangan rumah pemilik anjing tersebut memang sangat dekat, hanya sekitar 5 meteran saja.

Namun, baik pihak masjid maupun jamaah tidak pernah protes dengan keluarga pemilik anjing tersebut, dan keluarga pemilik anjing tersebut juga tidak pernah protes dengan berbagai aktivitas yang diselenggarakan di sekitar masjid. 

Sementara di bagian belakang, terdapat kompleks perumahan, dimana hampir 100% adalah orang Tionghoa. 

Hingga saat ini, alhamdulillah kami tidak pernah mendapatkan komplain dari komunitas masyarakat Tionghoa tersebut. Beberapa di antaranya justru senang dengan keberadaan Masjid Kapal Munzalan. 

Mereka senang karena sering mendapatkan bingkisan dari Masjid Kapal Munzalan. Setiap hari Jumat, atas perintah Gurunda Ustadz Luqmanulhakim dan Gurunda H.M. Nur Hasan, para sahabat mengirimkan bingkisan berupa buah-buahan kepada penghuni kompleks dan karyawan penjaga toko. Tidak heran jika mereka sangat akrab dengan nama “Masjid Kapal Munzalan”.

Ada sebuah kisah yang menarik terkait masyarakat Tionghoa dan Masjid Kapal Munzalan. Suatu ketika ada seorang jamaah dari luar kota ingin mengunjungi Masjid Kapal Munzalan. Karena baru pertama kali, ia kesulitan mencari masjid kami. Orang tersebut yang kebingungan mampir ke sebuah toko milik orang Tionghoa yang terletak tidak jauh dari masjid kami. Terjadilah dialog antara pengunjung dan pemilik toko yang orang Tionghoa tersebut.

“Nya (nyonya, panggilan emak-emak orang Tionghoa), numpang tanya. Masjid Kapal Munzalan dimana ya?”

Si Nyonya pemilik toko itu tidak langsung menjawab. Ia tampak belum jelas benar mendengar pertanyaan si tamu.

“Apa?”, tanya si Nyoya

“Masjid Kapal Munzalan!”, ulang si penanya.

“Haiyya, Masjid apa wa itu. Saya tidak pelnah dengal..”, jawab Maknya.

“Masjid Kapal Munzalan, Masjid Munzalan Maknya. Yang bentuknya seperti kapal!”, jelas si Penanya.

Tidak lama, wajah si Maknya sumringah. Lalu menjawab pertanyaan tamu dari luar kota itu.

“Oooo, Masjid “Kapal Selam”. Haaa, nggak tahu waaa. Abang telus aja hooo..nanti ada gang belok kili”, jawab si Maknya.

“Oya makasih. Maknya!”, jawab si penanya cekikikan dan bertanya dalam hati. “Hah, Masjid Kapal Selam? Memangnya empek-empek!” 

***

Ada cerita unik lagi di balik nama Munzalan. Cerita berawal saat rombongan Munzalan mengunjungi Kota Palu. 

Saat itu seluruh pimpinan PMMAY diajak Gurunda Ustadz Luqmanulhakim ke Kota Palu. Tujuannya adalah mengunjungi beberapa masjid yang dibangun oleh Pak Udin, Ketua PASKAS Kota Palu. Masjid-masjid itu dibangun di daerah-daerah yang terkena bencana gempa dan diberi nama dengan nama yang sama persis dengan Masjid Kapal Munzalan Pontianak.

Di Masjid Kapal Munzalan terakhir, kami melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Setelah sholat Maghrib, pengurus Masjid mendaulat Gurunda Gurunda Ustadz Luqmanulhakim untuk memberikan tausiah.

Setelah melaksanakan sholat ba’diyah Maghrib, Imam Masjid yang juga Ketua Takmir Masjid Kapal Munzalan Palu langsung mengambil MIC, lalu memberikan pengumuman. Isi pengumumannya adalah mengajak jamaah sholat maghrib agar tidak langsung pulang, karena akan ada silaturahmi dari Pengurus Masjid Kapal Munzalan Pontianak dan Pengasuh Pondok Modern Ashabul Yamin.

 “Bismillahirrahmannirrahiim. Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh… Para Jama’ah sholat maghrib Masjid Kapal Munzalan rahimakumullah. Alhamdulillah hari ini kita kedatangan tamu istimewa, yaitu Ustadz Luqmanulhakim dan rombongan dari Pontianak. Beliau ini adalah pengurus Masjid….sekaligus Pimpinan Pondok Modern…. eeee…”

Bapak Takmir berhenti sejenak. Ia tidak langsung menyebutkan nama masjid dan nama pondok kami. Mungkin takut salah. Lalu ia bertanya dengan Ustadz Luqmanulhakim yang berada tidak jauh di sampingnya. Sayup-sayup terdengar ucapan beliau :

“Masjid apa, ustadz?”

Ustadz Luqmanulhakim langsung menjawab, “Masjid Kapal Munzalan.”

“Pondoknya?” bisiknya lagi pada ustadz Luqman

“Pondok Modern Munzalan Ashabul Yamin,” jawab ustadz Luqman.

Bapak takmir itu tampak menggerak-gerakkan bibirnya. Mungkin beliau mengulang kembali nama masjid dan nama pondok yang baru saja dibisikkan oleh Ustadz Luqman. 

Tidak lama ia kembali meneruskan pidatonya…

“Beliau ini adalah pengurus Masjid Kapal Munzalan serta Pengasuh Pondok Modern Munzalan Ashabul Yaman!. Untuk menghemat waktu, kepada beliau, kami persilahkan,” hatur Bapak Paruh baya itu. 

Beberapa orang tidak kuasa menahan tawa. Ashabul Yaman, sudah seperti  kerajaan timur tengah saja.

Nama masjid dan pondok kami memang agak panjang dan jarang digunakan untuk nama masjid atau nama pondok pesantren. Makanya banyak orang yang sering salah mengucapkan saat menyebut nama masjid dan nama pondok kami. 

Walaupun demikian, kami semua memakluminya. Apalah arti sebuah nama….kalau ia tidak bisa memancing tawa. Hahaaa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Populer